Lewati ke konten utama
TIH
Pekan 5 dari 16 Fase: Solution Design & MVP

MVP dengan Vibe Coding dan AI

Membangun MVP dalam hitungan hari, bukan bulan, lewat tools AI seperti Bolt, Lovable, v0, Cursor, dan Claude Artifact. Pekan ini Anda menghasilkan prototipe yang bisa dipakai responden nyata pada pekan 6.

Durasi 120 menit Bulan 2 Hasil: Link MVP yang bisa diakses (publik atau internal terbatas) dengan tracking event aktif

Tujuan belajar

  • Memahami spektrum 6 jenis MVP dari smoke test sampai functional prototype
  • Memilih jenis MVP yang tepat untuk asumsi paling berisiko
  • Menggunakan tools AI builder untuk membuat prototipe dalam 3 sampai 5 hari
  • Menyiapkan instrumentasi tracking sederhana untuk mengukur perilaku pengguna
  • Menerapkan aturan emas: maksimal 3 fitur inti di MVP

Pra-syarat sebelum mulai

Sebelum buka modul ini, siapkan:

  • Hasil pekan 4: Lean Canvas terisi 9 blok, UVP statement, dan 1 opsi solusi terpilih dari skoring 4 dimensi.
  • Akun: Bolt.new, Lovable, atau Vercel (pilih satu sesuai stack pilihan Anda). Beberapa punya trial gratis 14 hari.
  • Akun GitHub (untuk versioning code, walau code di-generate AI).
  • Akun Plausible / Google Analytics 4 untuk tracking (free).
  • Domain (opsional, Rp 100 ribu per tahun di domain.id) atau pakai subdomain gratis dari hosting.
  • Waktu eksekusi 5 hari kerja, sebar antara modul ini dan pekan 6.

Topik

Lima tahun lalu, MVP butuh tim coding 4 orang dan waktu 2 bulan. Sekarang seorang founder solo bisa menghasilkan prototipe fungsional dalam hitungan hari. Pekan ini kita memanfaatkan tools AI builder untuk mempercepat siklus belajar.

Tujuan MVP bukan produk sempurna, tapi alat untuk belajar lebih cepat. Pertanyaan yang membimbing: asumsi mana yang paling berisiko bila salah, dan apa MVP termurah yang bisa menguji asumsi itu.

Apa yang Akan Dipelajari

  • Definisi MVP yang sering disalahpahami
  • Spektrum 6 jenis MVP dari paling murah ke paling kompleks
  • Cara memilih jenis MVP berdasarkan asumsi yang ingin diuji
  • Tools AI builder yang relevan tahun ini: Bolt, Lovable, v0, Cursor, Claude Artifact
  • Strategi vibe coding yang efektif (deskripsi bertahap, bukan satu prompt panjang)
  • Tracking plan minimal untuk mengukur perilaku, bukan pendapat
  • Aturan emas memotong scope ke 3 fitur inti

Glossary singkat

  • MVP (Minimum Viable Product): eksperimen termurah yang bisa membuktikan atau menggugurkan asumsi paling berisiko
  • Smoke test: landing page dengan tombol “daftar tunggu” untuk uji minat tanpa membangun produk
  • Concierge MVP: layanan manual yang dijalankan founder sendiri tanpa otomasi
  • Wizard of Oz: produk yang user kira otomatis padahal manual di belakang layar
  • Single feature MVP: produk dengan 1 fitur saja yang dieksekusi mendalam
  • Crippled product: produk berfungsi tapi terbatas (1 segmen, 1 geografi)
  • Functional prototype: mendekati produk akhir, UI seadanya
  • Vibe coding: pendekatan membangun software dengan deskripsi natural bahasa, AI menerjemahkan ke kode (istilah Andrej Karpathy)
  • Aha moment: momen ketika pengguna pertama kali merasakan nilai inti produk
  • Tracking plan: dokumen yang merangkum event yang dilacak dan tujuan analisisnya

Estimasi waktu pengerjaan modul

AktivitasEstimasi
Bacaan modul30 menit
Demo dan simulasi25 menit
Worksheet 5 sheet75 menit
Eksekusi build MVP5 hari kerja
Refleksi pribadi10 menit
Total bacaan2 jam 20 menit
Total eksekusi (5 hari)15 sampai 25 jam

Uraian Pembelajaran

MVP bukan produk versi mini

Banyak yang salah paham mengira MVP adalah versi murah dari produk akhir. MVP yang benar adalah eksperimen termurah yang bisa membuktikan atau menggugurkan asumsi paling berisiko. Steve Blank dan Eric Ries mendefinisikannya sebagai vehicle untuk learning, bukan untuk earning.

Pertanyaan kunci sebelum membangun:

  1. Asumsi mana yang paling berisiko bila salah?
  2. Apa MVP termurah yang bisa menguji asumsi itu?

Kalau jawabannya bisa landing page sederhana, jangan bangun aplikasi. Kalau perlu interaksi nyata, baru bangun functional prototype.

Spektrum 6 jenis MVP

Dari yang paling murah ke paling kompleks:

JenisDeskripsiContoh nyataEstimasi waktu
Smoke testLanding page dengan tombol “daftar tunggu”Buffer awal: landing page mockup app, tombol “Plans & Pricing” jadi tombol survei1-2 hari
ConciergeLayanan manual founder, tanpa otomasiAirbnb awal: founder foto sendiri rumah-rumah3-5 hari
Wizard of OzUser kira otomatis padahal manualAardvark (acquired Google): user kira AI matching, padahal manual5-7 hari
Single feature1 fitur saja, eksekusi mendalamTwitter awal: hanya post 140 karakter1-2 minggu
Crippled productBerfungsi tapi terbatasFacebook awal: hanya kampus Harvard2-4 minggu
Functional prototypeMendekati produk akhir, UI seadanyaUber awal: aplikasi sederhana, hanya 1 kota3-6 minggu

Pilih sesuai asumsi yang diuji. Untuk menguji minat, smoke test cukup. Untuk menguji apakah orang mau bayar, butuh setidaknya concierge. Untuk menguji efektivitas fitur kompleks, butuh functional prototype.

Vibe coding dengan AI builder

Vibe coding adalah istilah yang dipakai Andrej Karpathy (Februari 2025) untuk pendekatan membangun software dengan deskripsi natural bahasa. Anda menggambarkan apa yang dibutuhkan, AI menerjemahkan ke kode. Hasilnya tidak selalu rapi, tapi cukup untuk MVP.

Tools yang relevan saat ini:

ToolKeunggulanKapan dipakai
Bolt.newCepat untuk full-stack web app dengan databaseMVP web app yang butuh database dan auth
LovableBagus untuk landing page dan internal tool dengan UI rapiSmoke test, dashboard simpel
v0.app (Vercel)Kuat untuk komponen UI yang cleanWireframe interaktif, design system
CursorEditor lokal dengan AI pair programmingSetelah Anda punya pengalaman coding
Claude ArtifactPrototipe kalkulator, dashboard, tool kecil tanpa setupDemo fitur sederhana, mockup interaktif

Strategi vibe coding yang efektif:

  1. Deskripsikan dengan spesifik, bukan generik. “Form login dengan email + password” lebih baik dari “halaman login bagus.”
  2. Mulai dari fitur paling inti. Jangan minta semua fitur sekaligus.
  3. Iterasi kecil-kecil. Build, test, perbaiki. Bukan satu prompt 1000 kata.
  4. Hasil terbaik dari percakapan, bukan satu prompt panjang. Tanya AI “apa yang perlu saya tambahkan supaya ini lebih simpel” untuk dapat ide.

Demo singkat: bangun landing page dalam 30 menit

Skenario: smoke test untuk validasi minat UMKM kuliner.

Langkah 1 (5 menit). Buka Lovable.dev. Prompt:

“Buat landing page untuk produk SaaS bernama KasirOne. Target audiens: pemilik UMKM kuliner di Indonesia. Headline: ‘Stop missed order saat lunch peak.’ Subheadline: ‘Dashboard 1 layar untuk semua pesanan dari GoFood, GrabFood, dan WhatsApp.’ Tombol CTA: ‘Daftar Beta Tester (Gratis 30 hari)’. Pakai warna primary biru tua, font Inter. Tambah section: 3 fitur utama, testimonial slot kosong, FAQ 5 pertanyaan.”

Langkah 2 (10 menit). Review hasil, iterasi. Tambah/kurangi sesuai brand. Ganti kata-kata yang janggal.

Langkah 3 (10 menit). Connect ke form Tally atau Google Forms untuk capture daftar tunggu. Tambah event tracking ke Plausible.

Langkah 4 (5 menit). Deploy ke kasirone.app (subdomain gratis). Share link ke 3 teman tes.

Total: 30 menit. Ready untuk dipakai uji minat di pekan 6.

Demo singkat: bangun web app sederhana dalam 2 jam

Skenario: functional prototype dashboard pesanan untuk concierge MVP.

Langkah 1 (15 menit). Buka Bolt.new. Prompt awal:

“Buat web app dengan Supabase untuk database dan auth. Fitur: (1) login/register dengan email, (2) form input pesanan dengan field: platform source (dropdown: GoFood/GrabFood/WhatsApp), nama customer, menu, total harga, status, (3) list view semua pesanan dengan filter platform dan tanggal. Tampilkan dengan table simpel. Pakai Tailwind.”

Langkah 2 (30 menit). Iterasi. Tambah notifikasi browser saat ada pesanan baru. Perbaiki UI. Test flow signup-input-list.

Langkah 3 (30 menit). Tambah fitur ke-2 (auto-rekap WA): button “Export Recap to WA Format” yang generate text yang bisa di-copy ke WhatsApp.

Langkah 4 (30 menit). Tracking. Pasang Plausible script. Test semua event firing.

Langkah 5 (15 menit). Deploy ke Bolt subdomain. Test di mobile (HP). Catat bug minor untuk diperbaiki nanti.

Total: 2 jam. Ready untuk concierge MVP dengan 5 UMKM pertama.

Aturan emas: kurangi scope

Godaan terbesar saat membangun MVP adalah menambah fitur. Setiap fitur menambah waktu, bug, dan keraguan tentang sumber feedback.

Aturan praktis: jika Anda punya 10 ide fitur, MVP harus berisi 3. Sisanya tunda sampai ada bukti dari pengguna nyata.

Tiga pertanyaan saring untuk tiap fitur:

  1. Apakah fitur ini menguji asumsi yang masih berisiko? Bila tidak, tunda.
  2. Apakah pengguna akan tetap pakai produk tanpa fitur ini? Bila ya (mereka tetap pakai), tunda.
  3. Apakah waktu untuk membangunnya kurang dari 1 hari kerja? Bila tidak, tunda.

Bila satu dari tiga jawabannya negatif, tunda fiturnya.

Tracking plan minimal

Bangun MVP tanpa instrumentasi seperti pasang lampu tanpa stop kontak. Anda butuh data perilaku, bukan tebakan.

Tools sederhana:

  • Google Analytics 4: gratis, lengkap, tapi setup awal kompleks
  • Plausible: privacy-first, simpel, USD 9 per bulan
  • Mixpanel: free tier 100 ribu event per bulan, bagus untuk product analytics
  • PostHog: free tier 1 juta event per bulan, open source

Pilih satu sesuai kompleksitas. Untuk smoke test cukup Plausible. Untuk functional prototype perlu Mixpanel atau PostHog supaya bisa cohort analysis.

5 sampai 8 event yang sebaiknya dilacak:

  1. page_view: setiap halaman load
  2. sign_up: user baru daftar
  3. first_action: pengguna selesaikan key action pertama (definisikan apa key action-nya)
  4. return_visit: user kembali setelah X hari
  5. conversion: aksi menghasilkan revenue (pembayaran, upgrade)

Tambah custom event sesuai produk. Untuk concierge MVP, tracking-nya bisa pakai spreadsheet manual. Yang penting: catat setiap interaksi.

Studi kasus singkat

Buffer (Joel Gascoigne, 2010). Buffer dimulai sebagai smoke test 2 halaman. Halaman 1: deskripsi produk. Halaman 2: pricing dengan 3 tier. Tombol “Plans & Pricing” yang diklik justru menampilkan form survei “produk ini belum ada, mau jadi early user?”. Dalam 7 hari, ratusan signup. Itu validasi minat. Functional prototype baru dibangun setelah validasi.

Airbnb (Brian Chesky, 2008). Concierge MVP. Founder foto sendiri 3 rumah teman, bikin website manual, posting iklan di Craigslist. Dalam 1 minggu dapat 3 booking. Itu validasi willingness to pay. Otomasi platform baru dibangun setelah Y Combinator.

Mekari (Suwandi Soh, 2015). Sebelum jadi platform HRIS lengkap, Mekari Talenta mulai sebagai single feature MVP fokus payroll otomatis. Hanya 1 fitur dieksekusi mendalam: hitung payroll dengan PPh21 dan BPJS otomatis dari data absen. Setelah 50 customer pertama valid, baru ekspansi ke fitur HRIS lain (absen mobile, leave management, performance review).

Dropbox (Drew Houston, 2007). Wizard of Oz: video demo 3 menit yang menunjukkan fitur file sync, padahal di belakang layar belum ada produk jadi. Video viral di Hacker News, ratusan ribu signup beta. Itu validasi minat dan kebutuhan. Build produk baru setelah validasi.

Simulasi: dari opsi solusi ke MVP launch

Mari jalankan satu simulasi utuh. Konteks: Anda pilih Opsi A dari pekan 4 yaitu SaaS dashboard kelola pesanan all-in-one.

Langkah 1. Identifikasi asumsi paling berisiko

Dari Lean Canvas pekan 4, asumsi skor 5: “Pemilik UMKM mau bayar 100rb/bln untuk solusi missed order.”

Langkah 2. Pilih jenis MVP yang menguji asumsi itu

Untuk uji willingness to pay, smoke test landing page tidak cukup. Concierge MVP minimum: layanan manual yang dijalankan founder ke 5 UMKM pertama dengan kontrak nyata. Atau, functional prototype web app sederhana dengan tombol “Bayar 100rb/bln”.

Pilih: functional prototype web app + concierge support manual.

Langkah 3. Potong fitur ke 3

Dari 6 fitur ide, potong ke 3:

  • Inbox unified GoFood + GrabFood + WA (must)
  • Notifikasi prioritas (must)
  • Auto-rekap harian via WA (must)
  • Analytics dashboard (tunda)
  • Multi-cabang (tunda)
  • Inventory bahan baku (tunda)

Langkah 4. Pilih tools stack

  • Bolt.new untuk full-stack
  • Supabase free tier untuk database + auth
  • Plausible untuk tracking (USD 9/bulan)
  • WhatsApp Business + spreadsheet untuk support manual
  • Total biaya MVP: USD 29/bulan = Rp 465 ribu

Langkah 5. Tracking plan

EventTriggerTujuan
page_viewHalaman manapunVolume
sign_upDaftar suksesTop-funnel
first_order_handledHandle 1 pesanan via appActivation
3rd_order_handledHandle ke-3 (definisikan activated)Time to activation
return_visit_d7Kembali D+7Retensi 7 hari
sub_payment_initKlik BayarKonversi paid

Langkah 6. Build dan launch

Hari 1-2: build dengan Bolt, iterasi UI. Hari 3: tracking setup. Hari 4: tes internal. Hari 5: undang 5 UMKM dari wawancara pekan 2 sebagai beta tester.

Output pekan 5: link MVP yang bisa diakses (kasirone.app), dengan tracking aktif dan 5 UMKM siap onboarding di pekan 6.

Contoh MVP dari domain lain

  • B2B SaaS HR: Concierge MVP. Founder kerja manual sebagai “outsourced HR” untuk 5 perusahaan kecil. Pakai Notion + spreadsheet. Validasi willingness to pay sebelum build software.
  • Marketplace AC service: Smoke test landing page. Form input “Booking AC service di area Anda”. Setiap booking, founder telpon teknisi rekanan manual. Validasi demand di area Jabodetabek dulu.
  • Consumer health ASI tracker: Single feature MVP. Hanya log harian + benchmark di mobile web app. Tidak ada chat dokter dulu, tidak ada community feature.
  • Edtech vokasi multimedia: Wizard of Oz. Form “Daftar program 8-minggu”. Setiap signup, founder buat curriculum manual via Google Doc + zoom 1-on-1. Belum ada platform sama sekali.
  • Fintech kredit konsumtif: Smoke test. Landing page dengan kalkulator simulasi pinjaman, tidak ada actual pinjaman dulu. Capture leads, validasi appetite, baru urus regulator.

Anti-pattern: kesalahan yang harus dihindari

  1. Membangun MVP yang terlalu lengkap. “MVP saya butuh 12 fitur supaya kompetitif.” Salah. MVP ada untuk learning, bukan untuk dijual ke mass market dulu.
  2. Skip smoke test, langsung functional prototype. Setiap tingkat kompleksitas yang dilewati menambah waktu 5-10x. Pertimbangkan smoke test atau concierge dulu sebelum lompat.
  3. Lupa tracking sejak hari 1. Pasang setelah launch berarti minggu pertama data hilang. Tracking harus jadi bagian dari MVP, bukan afterthought.
  4. Vibe coding dengan satu prompt panjang. Hasilnya kacau. Pecah jadi percakapan iteratif: 1 fitur per prompt, review, iterasi.
  5. Memilih tools karena hype, bukan kecocokan. Bolt vs Lovable vs Cursor punya use case berbeda. Pilih yang cocok dengan use case Anda, bukan yang paling baru.
  6. Over-engineer infrastruktur sebelum punya 10 user. Tidak perlu Kubernetes, tidak perlu CI/CD canggih, tidak perlu microservices. Vercel + Supabase free tier cukup.

Tugas Worksheet

Buka file pekan-05.xlsx dari sidebar. Total waktu pengerjaan worksheet sekitar 75 menit. Eksekusi build MVP butuh 5 hari kerja terpisah.

Sheet 1: Pemilihan Jenis MVP (estimasi 20 menit)

Cara mengisi:

  1. Tulis asumsi paling berisiko dari Lean Canvas (skor 5 di pekan 1)
  2. Pilih jenis MVP yang matching dengan asumsi itu
  3. Tulis alasan + estimasi waktu bangun realistis

Kualitas minimum: asumsi yang diuji adalah skor 5. Jenis MVP matching dengan tujuan validasi. Estimasi waktu 1-7 hari.

Sheet 2: Scope Fitur MVP (estimasi 15 menit)

Cara mengisi:

  1. List semua ide fitur dari Lean Canvas pekan 4
  2. Tandai must have (max 3) dan nice to have
  3. Tiap nice to have: tulis alasan kenapa ditunda

Kualitas minimum: maksimal 3 fitur must have. Bila Anda punya 4+ must have, paksa diri Anda potong sampai 3.

Sheet 3: Tools Stack (estimasi 15 menit)

Cara mengisi:

  1. Pilih tools per komponen (frontend, database, hosting, tracking, support)
  2. Tulis alasan dan estimasi biaya bulanan

Kualitas minimum: total biaya tools di bawah Rp 1 juta per bulan untuk tahap MVP awal.

Sheet 4: Tracking Plan (estimasi 15 menit)

Cara mengisi:

  1. Daftar minimal 5 event yang akan dilacak
  2. Setiap event punya trigger jelas (action user atau halaman load)
  3. Properti yang ikut dikirim per event
  4. Tujuan analisis (terhubung dengan key metrics dari Lean Canvas)

Kualitas minimum: minimum 5 event. Setiap event punya tujuan analisis yang nyambung dengan key metrics.

Sheet 5: Refleksi Pribadi (estimasi 10 menit)

Tiga pertanyaan singkat. Jawaban hanya dilihat oleh mentor.

Eksekusi build (5 hari kerja)

Targetkan launch MVP di akhir pekan 5. Pekan 6 dipakai untuk testing dengan 10-20 calon pengguna nyata.

Cara mengumpulkan

Simpan worksheet dengan nama pekan-05-[nama-Anda].xlsx. Submit link MVP yang sudah jadi dalam kolom catatan worksheet. Upload ke folder Drive kohort sebelum Sabtu pukul 21.00.

20 Persen Terpenting dari Pekan Ini

Lima hal yang harus diingat:

  1. MVP adalah eksperimen untuk learning, bukan produk untuk earning. Pertanyaan kunci: asumsi mana yang paling berisiko, dan apa MVP termurah yang bisa menguji.
  2. Pilih MVP termurah dulu. Smoke test untuk uji minat. Concierge untuk uji willingness to pay. Functional prototype hanya bila perlu interaksi nyata.
  3. Maksimal 3 fitur inti. Setiap fitur tambahan menambah waktu eksekusi 30-50 persen. Tunda nice-to-have.
  4. Vibe coding via percakapan iteratif, bukan satu prompt panjang. Build, test, perbaiki. Pecah scope jadi langkah kecil.
  5. Tracking dari hari 1. Pasang event sejak launch. Tracking yang ditambah belakangan kehilangan data minggu pertama yang paling berharga.

Checklist Peserta Sebelum Lanjut ke Pekan 6

Beri tanda centang. Lanjut ke pekan 6 hanya bila minimal 8 dari 10 sudah tercentang.

  • Saya bisa menyebut 6 jenis MVP dan kapan masing-masing dipakai
  • Saya pilih jenis MVP yang matching dengan asumsi paling berisiko
  • MVP saya hanya punya 3 fitur inti (must have), nice-to-have ditunda
  • Saya pilih tools stack dengan total biaya di bawah Rp 1 juta/bulan
  • Tracking plan minimum 5 event sudah disiapkan
  • Tracking event sudah aktif dan tested di MVP
  • MVP bisa diakses via link publik atau internal terbatas
  • Minimum 5 calon pengguna dari wawancara pekan 2 sudah diundang test
  • Saya tidak over-engineer (tidak pakai Kubernetes, microservices)
  • Saya tidak menambah fitur di luar 3 yang must have

Centang yang jujur. Pekan 6 akan ambil MVP Anda untuk diuji ke 10-20 calon pengguna dengan siklus Build-Measure-Learn.

Pekan 4 sebelumnya
Solution Design dan Lean Canvas
Pekan 6 berikutnya
Validasi MVP dengan Build-Measure-Learn