Tujuan belajar
- Memahami 3 aturan Mom Test untuk wawancara yang menghasilkan data jujur
- Menguasai struktur 5 langkah customer interview yang dipakai partner YC
- Bisa membedakan pertanyaan baik (perilaku masa lalu) dari pertanyaan jebakan (opini masa depan)
- Mampu mendeteksi 4 sinyal pain yang nyata dan membedakan dari sopan-santun
- Menjalankan dan mendokumentasikan minimal 5 wawancara dalam 7 hari
Pra-syarat sebelum mulai
Sebelum buka modul ini, siapkan:
- Hasil pekan 1: 5 sampai 8 asumsi sudah dipetakan, problem statement 4 komponen sudah jadi, 3 hipotesis dengan indikator valid/gugur sudah ditulis.
- Daftar calon responden minimum 10 nama. Boleh dari LinkedIn, komunitas, jaringan teman, atau intro dari pekan 1.
- Voice recorder atau aplikasi rekaman di HP. Minta izin sebelum rekam.
- Buku catatan atau Notion/Google Doc untuk dokumentasi pasca-wawancara.
- Slot kalender 7 hari ke depan untuk minimum 5 wawancara, masing-masing 30 sampai 45 menit.
Topik
Wawancara pengguna terlihat mudah, tapi sebenarnya rumit. Banyak founder pulang dari sesi wawancara dengan rasa percaya diri palsu karena responden bersikap sopan. Pekan ini kita belajar teknik yang membuat responden jujur tanpa merasa diintrogasi, dan mengubah obrolan biasa menjadi sumber data yang valid.
Yang paling sering terjadi di kohort sebelumnya: peserta wawancara 5 orang, semua bilang “iya bagus, mau pakai”, tapi tidak ada satu pun yang akhirnya bayar. Itu bukan validasi, itu sopan-santun yang salah dibaca.
Apa yang Akan Dipelajari
- Tiga aturan Mom Test dari Rob Fitzpatrick yang membalik pendekatan wawancara
- Struktur 5 langkah customer interview yang dipakai partner YC
- Cara menyusun pertanyaan terbuka tentang perilaku masa lalu
- 5 pola pertanyaan aman yang bisa langsung dipakai
- 4 sinyal pain yang membedakan masalah nyata dari masalah karangan
- Cara dokumentasi yang menangkap data, bukan kesimpulan
- Cara mendeteksi pola dari minimum 5 wawancara
Glossary singkat
- Mom Test: prinsip dari Rob Fitzpatrick: jangan tanya hal yang akan dijawab “iya” oleh ibumu sendiri walaupun ide Anda jelek
- Leading question: pertanyaan yang sudah mengarahkan jawaban tertentu (“Anda setuju kan kalau…”)
- Behavioral question: pertanyaan tentang perilaku konkret yang sudah terjadi (“Kapan terakhir Anda…”)
- Hypothetical question: pertanyaan tentang masa depan yang belum terjadi (“Kalau ada aplikasi yang…”)
- Quote literal: kutipan langsung kata demi kata dari responden, tanpa parafrase
- Recall bias: kecenderungan responden mengingat kejadian lebih indah/lebih buruk dari aslinya
- Signal: pola yang muncul minimum 3 sampai 4 dari 5 responden, bukan kebetulan
- Noise: temuan dari 1 responden saja yang sering membuat founder kepleset menarik kesimpulan
- Workaround: cara kreatif yang dipakai pengguna untuk mengatasi masalah saat solusi ideal belum ada
- Referral: pengalaman responden mengenalkan Anda ke 2 atau 3 orang lain dengan profil mirip
Estimasi waktu pengerjaan modul
| Aktivitas | Estimasi |
|---|---|
| Bacaan modul | 25 menit |
| Simulasi (membaca skrip lengkap) | 15 menit |
| Worksheet 5 sheet | 100 menit (sebar 7 hari) |
| Refleksi pribadi | 10 menit |
| Total bacaan | 50 menit |
| Total eksekusi (7 hari) | 5 sampai 7 jam |
Catatan: pekan ini berbeda dari pekan 1. Eksekusi worksheet butuh keluar lapangan, bukan diam di meja. Jangan paksa selesai dalam 1 hari.
Uraian Pembelajaran
Kenapa kebanyakan wawancara gagal
Bayangkan Anda bertanya pada teman, “Menurutmu kalau aku bikin aplikasi belajar coding untuk anak SD, bagus tidak?” Hampir pasti jawabannya positif. Bukan karena ide itu memang bagus, tapi karena teman Anda ingin menjaga perasaan. Inilah masalah utama wawancara: kita sering pulang dengan opini sopan, bukan fakta.
Tiga penyebab kegagalan paling umum.
Pertama, founder bicara terlalu banyak. Aturan tidak resmi: di wawancara discovery, founder bicara 30 persen, responden bicara 70 persen. Bila Anda lebih banyak bicara, sesi itu jadi pitch terselubung, bukan eksplorasi.
Kedua, pertanyaan mengarahkan. “Bukankah akan bagus kalau ada aplikasi yang…?” sudah mengandung jawaban di dalamnya. Responden cuma tinggal angguk. Anda dapat angguk, tapi tidak dapat data.
Ketiga, mengkonfirmasi alih-alih menggugurkan. Bias konfirmasi membuat Anda mendengar yang Anda ingin dengar. Responden bilang “menarik”, Anda dengar “saya mau bayar”. Padahal “menarik” adalah jarak panjang dari “saya mau bayar.”
Tiga aturan Mom Test
Rob Fitzpatrick di buku The Mom Test (2013) merumuskan 3 aturan praktis. Disebut Mom Test karena tujuan akhirnya adalah pertanyaan yang akan dijawab JUJUR oleh ibu Anda sendiri walaupun ide Anda jelek.
Aturan 1: Bicarakan hidup mereka, bukan ide Anda.
Salah: “Kalau saya bikin aplikasi yang membantu Anda kelola pesanan multi-channel, mau pakai?” Benar: “Ceritakan gimana Anda biasanya kelola pesanan dari beberapa platform sekaligus pas jam ramai.”
Aturan 1 memaksa Anda menggali kondisi nyata, bukan menjual ide.
Aturan 2: Tanya tentang yang spesifik di masa lalu, bukan generik atau masa depan.
Salah: “Apakah Anda biasanya merasa kewalahan?” Benar: “Kapan terakhir Anda merasa benar-benar kewalahan dengan pesanan online? Hari apa, jam berapa, apa yang Anda lakukan?”
Aturan 2 memaksa responden mengakses memori spesifik, bukan opini umum yang biasanya bias positif.
Aturan 3: Lebih banyak dengar, lebih sedikit bicara.
Aturan ini sederhana tapi sulit dilakukan. Praktik konkret: setelah responden selesai jawab, hitung dalam hati 1, 2, 3 sebelum Anda lanjut. 80 persen waktu mereka akan menambah info yang lebih dalam di detik ke-3 itu.
Struktur wawancara 5 langkah
Format yang dipakai YC dan startup tahap awal punya 5 fase. Total durasi 25 sampai 35 menit. Lebih lama dari itu, energi responden mulai turun. Lebih singkat, kita kehilangan kedalaman.
Fase 1: Warm up (2 sampai 3 menit)
Tujuan: bangun rasa nyaman. Konteks: jelaskan kenapa Anda di sini (bukan untuk jualan), minta izin rekam, sampaikan ini bukan tes (responden tidak salah jawab apapun).
Skrip pembuka: “Saya lagi belajar tentang [domain]. Tidak jualan apa-apa. Tujuan saya hari ini cuma ngerti gimana Anda biasanya mengalami [situasi spesifik]. Boleh saya rekam supaya nanti bisa dengar ulang dan tidak lewatkan?”
Fase 2: Konteks (5 sampai 7 menit)
Tujuan: pahami situasi sehari-hari yang relevan. Pertanyaan tentang rutinitas, channel yang dipakai, alat yang dimiliki, ukuran bisnis atau peran mereka.
Contoh pertanyaan: “Boleh diceritain dulu, sehari-hari Anda biasanya ngapain di [konteks ini]? Tools apa yang Anda pakai? Sudah berapa lama?”
Fase 3: Bedah masalah (10 sampai 15 menit, fase paling panjang)
Tujuan: temukan masalah konkret yang berulang. Fokus pada kejadian spesifik di masa lalu. Tanya frekuensi, dampak, emosi.
Contoh pertanyaan: “Kapan terakhir Anda menghadapi [situasi sulit yang Anda duga ada]? Apa yang terjadi? Berapa sering ini muncul? Apa konsekuensinya?”
Bila responden cerita, jangan langsung lanjut ke pertanyaan berikutnya. Pakai prompt pendek untuk gali lebih dalam: “lalu?”, “apa yang Anda lakukan?”, “lalu apa rasanya?”
Fase 4: Solusi eksisting (5 sampai 7 menit)
Tujuan: pahami solusi alternatif yang sudah dipakai dan kenapa belum cukup.
Contoh pertanyaan: “Sudah pernah coba [solusi yang Anda duga]? Kenapa Anda berhenti pakai? Apa yang masih kurang?”
Pertanyaan ini juga punya fungsi bisnis: kalau responden sudah bayar untuk solusi alternatif, willingness to pay tervalidasi.
Fase 5: Tutup dan referral (3 sampai 5 menit)
Tujuan: tutup dengan rapi, dapat 2 sampai 3 nama referral.
Skrip penutup: “Terima kasih banyak. Pertanyaan terakhir, kalau saya mau ngobrol sama 2 sampai 3 orang lain dengan situasi mirip Anda, siapa yang Anda rekomendasikan? Boleh saya minta intro?”
Referral dari responden yang nyaman lebih cepat dapat janji daripada cold outreach. Manfaatkan momen ini.
Pertanyaan baik vs pertanyaan jebakan
| Pertanyaan jebakan | Pertanyaan baik | Kenapa lebih baik |
|---|---|---|
| Bukankah akan bagus kalau ada aplikasi yang… | Ceritakan terakhir kali Anda mengalami… | Menggali fakta, bukan opini |
| Kalau saya bikin X, mau pakai? | Solusi apa yang Anda pakai sekarang untuk… | Melihat perilaku eksisting |
| Berapa Anda mau bayar untuk X? | Berapa Anda saat ini bayar untuk solusi alternatif (admin, tools, dll)? | Anchor di realitas pengeluaran sekarang |
| Apakah ini masalah yang Anda hadapi? | Berapa kali minggu lalu Anda menghadapi situasi ini? | Memaksa kuantifikasi |
| Apakah fitur X penting buat Anda? | Apa yang paling membuat Anda frustrasi minggu lalu? | Membiarkan responden yang bawa topik |
Pola 5 pertanyaan terbuka yang aman
Bila Anda buntu, pakai 5 template ini sebagai starter:
- Ceritakan terakhir kali … (kapan, di mana, apa yang terjadi)
- Gimana proses Anda biasanya … (workflow eksisting)
- Apa yang paling bikin frustrasi soal … (pain emosional)
- Berapa lama Anda biasanya menghabiskan waktu untuk … (kuantifikasi)
- Sudah pernah coba solusi apa untuk … Kenapa berhenti? (kompetitor + alasan churn)
Tutup dengan: “Apa yang seharusnya saya tanyakan tapi tidak saya tanyakan?” Pertanyaan ini sering memunculkan info penting yang tidak ter-cover.
4 sinyal pain yang nyata
Bagaimana membedakan masalah riil dari sopan-santun? Cari 4 sinyal ini.
Sinyal 1: Sudah bayar untuk workaround. Responden sudah keluar uang untuk solusi alternatif walau belum ideal. Misal, hire admin, beli tools yang setengah cocok, langganan layanan yang tidak pas. Bila ada pengeluaran nyata, willingness to pay sebagian besar tervalidasi.
Sinyal 2: Workaround manual yang ribet. Responden membangun proses manual yang kompleks. Misal, spreadsheet rumit dengan rumus berlapis, grup WA khusus dengan banyak admin, ritual pagi-pagi yang khusus dibuat. Workaround manual menunjukkan masalah cukup penting untuk dihandle, walau cara-nya tidak optimal.
Sinyal 3: Cerita dengan emosi, bukan datar. Bahasa tubuh: tangan bergerak, suara naik, ekspresi terganggu saat cerita. Bandingkan dengan responden yang menjawab datar dan pendek-pendek.
Sinyal 4: Rela kasih waktu lanjut atau intro ke teman. Mau follow-up call kedua, mau dikenalkan ke 2 sampai 3 teman dengan situasi mirip, mau coba prototype awal. Bila satu pun tidak ada, kemungkinan besar pain-nya lemah.
Aturan praktis: minimum 2 dari 4 sinyal harus muncul untuk masuk kategori “pain nyata”. Hanya 1 sinyal masih meragukan.
Studi kasus singkat
Stripe (Patrick & John Collison, 2010-2011). Sebelum menulis baris kode pertama, Collison bersaudara mendatangi 100 developer kecil dan startup founder untuk menanyakan bagaimana mereka menerima pembayaran online. Yang ditemukan: developer benci dokumentasi PayPal yang berlapis dan butuh 2 minggu untuk integrasi. Insight ini jadi positioning Stripe: “7 baris kode untuk terima pembayaran”. Mereka tidak bertanya “Anda mau pakai Stripe?” Mereka tanya “ceritakan integrasi pembayaran terakhir yang Anda kerjakan”.
Mekari (Suwandi Soh, 2015-2016). Sebelum membangun produk Talenta (HRIS) dan Jurnal (akunting), Mekari mendatangi puluhan UKM di Jakarta untuk wawancara HR manager dan pemilik UKM. Pola yang muncul: mereka punya 3 sampai 5 spreadsheet terpisah untuk payroll, absen, dan PPh21, dengan rekonsiliasi manual tiap akhir bulan. Founder fokus pada problem rekonsiliasi spreadsheet, bukan jualan “sistem HRIS keren”.
Drift (David Cancel, 2014-2015). Drift dimulai dengan 100 wawancara ke marketer B2B. Cancel tidak tanya “fitur apa yang Anda butuhkan”, dia tanya “tunjukkan saya 5 chat tools yang sudah Anda coba dan kenapa berhenti pakai”. Dari pola jawaban, Drift positioning sebagai conversational marketing, bukan live chat biasa.
Pola yang sama: founder yang menang adalah yang paling sabar mendengarkan. Mereka tidak terburu-buru ke pitch, mereka membangun kebijaksanaan domain melalui wawancara berulang.
Simulasi: skrip wawancara 30 menit utuh
Mari jalankan satu wawancara contoh. Konteks: Anda sedang validasi ide aplikasi kelola pesanan untuk UMKM kuliner. Responden: Bu Ratna, pemilik Warung Nasi Pojok di Tangerang.
Menit 0-3: Warm up
Anda: “Bu Ratna, terima kasih udah meluangkan waktu. Saya bukan jualan apa-apa hari ini, saya lagi belajar gimana pemilik warung kelola pesanan online. Boleh saya rekam supaya nanti bisa dengerin ulang?” Bu Ratna: “Boleh, silakan.” Anda: “Sebentar saya nyalakan rekamannya. Oke. Sebelum mulai, sehari-hari Bu Ratna ngapain di warung?”
Menit 3-10: Konteks
Anda: “Boleh diceritain warung Bu Ratna gimana? Berapa lama jualannya, pelanggan biasanya dari mana?” Bu Ratna: “Warung saya udah 4 tahun. Awalnya cuma offline, customer dari komplek sini. Pas pandemi 2020 mulai daftar GoFood, terus 2022 nambah GrabFood. Sekarang sekitar 60 persen pesanan dari online.” Anda: “Berapa banyak pesanan per hari biasanya?” Bu Ratna: “Hari biasa 50-60. Pas weekend bisa 80-100.” Anda: “Lalu pas terima pesanan dari banyak channel itu, Bu Ratna pakai apa?” Bu Ratna: “Tablet 1 buat GoFood, HP saya buat GrabFood, terus ada WA grup pelanggan tetap juga buka di HP.”
Menit 10-22: Bedah masalah (fase paling penting)
Anda: “Kapan terakhir ada pesanan yang kelewat?” Bu Ratna: (diam sebentar) “Hari Sabtu kemarin. Jam 12.30. Ada pesanan GrabFood masuk pas saya lagi packing pesanan GoFood, terus saya lupa accept. Driver-nya nungguin 20 menit, akhirnya pesanan auto-cancel.” Anda: “Lalu apa yang terjadi?” Bu Ratna: “Pelanggannya kasih review jelek, bilang ‘lama, ujung-ujungnya batal’. Rating saya turun dari 4.7 ke 4.5. Mengganggu banget.” Anda: “Berapa sering kayak gitu kejadian?” Bu Ratna: “Kalau weekend… 3 sampai 5 kali per minggu lah. Kalau weekday lebih jarang, 1-2 kali.” Anda: “3 sampai 5 missed order per minggu… kalau dihitung kasar, dampaknya berapa ke omset?” Bu Ratna: “Per pesanan rata-rata 50-80 ribu. Berarti seminggu bisa 200-400 ribu. Belum termasuk yang nggak balik lagi karena jelek mood-nya.” Anda: (diam, hitungan 1-2-3) Bu Ratna: “Sebenarnya saya kadang nangis kalau lihat review jelek. Saya udah masak dari subuh, eh kelewat gara-gara sistem.”
Menit 22-28: Solusi eksisting
Anda: “Pernah coba pakai aplikasi atau tools untuk bantu kelola ini?” Bu Ratna: “Pernah denger aplikasi POS, tapi mahal banget, 500 ribuan per bulan. Nggak masuk buat warung saya.” Anda: “Selain itu?” Bu Ratna: “Saya udah coba pasang tablet besar di kasir, supaya semua channel ditampilin di 1 layar. Tapi tetap aja mesti buka aplikasi satu-satu, nggak ada notifikasi yang nge-merge.”
Menit 28-30: Tutup
Anda: “Bu Ratna, ini insight banget buat saya. Pertanyaan terakhir, kalau saya mau ngobrol sama 2-3 pemilik warung lain dengan situasi mirip Bu Ratna, siapa yang Bu Ratna rekomendasikan?” Bu Ratna: “Coba ke Pak Eko bakso di sebelah, sama Mbak Sari ayam geprek 3 cabang di Tangerang. Saya bisa kasih kontak.”
Apa yang baru saja kita dapat dari 1 wawancara ini?
- Frekuensi pain: 3-5 missed order per minggu di weekend
- Dampak ekonomi: 200-400 ribu omset hilang per minggu
- Dampak emosional: rating turun, founder nangis (sinyal pain kuat)
- Solusi alternatif yang dicoba: POS aplikasi 500rb/bln (terlalu mahal), tablet besar (tidak menyelesaikan inti masalah)
- 2 referral untuk wawancara berikutnya
Inilah hasil 30 menit yang dijalankan dengan benar. Bandingkan dengan wawancara yang dimulai dengan “Bu, saya bikin aplikasi kelola pesanan, mau coba tidak?” yang akan dapat jawaban “iya boleh nanti saya lihat” dan tidak ada data sama sekali.
Contoh skrip dari domain lain
Format berubah tergantung domain. Berikut adaptasi 5 pertanyaan inti untuk konteks berbeda:
- B2B SaaS HR: “Ceritakan proses Anda terakhir kali bikin laporan kinerja bulanan. Berapa lama? Tools apa? Apa yang paling lama?”
- Marketplace jasa: “Kapan terakhir Anda butuh jasa AC service? Gimana cari teknisinya? Hasil akhirnya gimana?”
- Consumer health: “Ceritakan minggu lalu, pas Anda merasa khawatir soal asupan ASI. Apa yang Anda lakukan? Cari informasi ke mana?”
- Edtech vokasi: “Kapan terakhir Anda apply kerja dan ditolak? Posisi apa? Tahu kenapa ditolak?”
- Fintech retail: “Kapan terakhir Anda butuh dana darurat di luar gaji? Berapa? Dari mana akhirnya?”
Pola sama: pertanyaan tentang kejadian terbaru dan spesifik. Hindari pertanyaan generik atau hipotesis.
Anti-pattern: kesalahan yang harus dihindari
Lima jebakan paling sering bikin peserta gagal di wawancara.
- Mengubah wawancara jadi pitch. Anda mendatangi calon pengguna untuk belajar, bukan jualan. Bila Anda lebih banyak ngomong dari mendengar, sesi itu gagal sebagai discovery.
- Tanya pertanyaan hipotesis tentang masa depan. “Kalau ada aplikasi yang…?” hampir selalu dapat jawaban sopan yang menyesatkan. Ganti dengan “ceritakan terakhir kali…” yang menggali memori spesifik.
- Mengkonfirmasi alih-alih menggugurkan. Bias konfirmasi membuat Anda mendengar yang ingin didengar. Praktik konkret: setelah wawancara, baca ulang catatan dengan pertanyaan “apa yang membuktikan saya SALAH?”
- Skor pain berdasar perasaan founder. Pain harus dinilai dari bukti perilaku responden (bayar workaround, hire orang, emosi cerita), bukan dari “saya ngerasa pain-nya kuat banget”.
- Tarik kesimpulan dari 1-2 wawancara. Pola yang muncul cuma di 1-2 responden bukan pola, itu noise. Tunggu sampai 3-4 dari 5 menunjukkan kemiripan.
Tugas Worksheet
Buka file pekan-02.xlsx dari sidebar. Total waktu pengerjaan kurang lebih 100 menit, tersebar di 7 hari karena Anda butuh keluar lapangan. Kerjakan berurutan: Sheet 1 → Sheet 2 → eksekusi 5 wawancara (catat di Sheet 3 setiap kali selesai) → Sheet 4 → Sheet 5.
Sheet 1: Daftar Calon Responden (estimasi 20 menit)
Cara mengisi:
- Tulis minimal 8 nama dari segmen target Anda. Targetkan 5 berhasil diwawancarai.
- Profil singkat: 1 baris yang merangkum siapa mereka (peran, ukuran bisnis, situasi).
- Saluran kontak: jelaskan tepat caranya (lewat siapa, nomor mana, apakah cold atau warm).
- Status: update setiap hari (diundang / janjian / selesai / gagal).
Kualitas minimum: minimal 5 dari 8 nama harus dari koneksi 2 langkah (teman dari teman), bukan dari teman dekat sendiri saja. Hindari semua responden dari kampus/komunitas yang sama, karena bias-nya akan tinggi.
Sheet 2: Skrip Wawancara (estimasi 20 menit)
Cara mengisi:
- Susun 8 sampai 10 pertanyaan terbuka behavioral.
- Setiap pertanyaan dimulai dengan kata kerja behavioral: ceritakan, kapan terakhir, gimana proses, sudah pernah, berapa lama, apa yang.
- Kolom Tujuan apa yang ingin digali: tulis hipotesis dari pekan 1 yang sedang Anda uji lewat pertanyaan ini.
Kualitas minimum: minimal 7 dari 10 pertanyaan adalah behavioral (perilaku masa lalu). Maksimal 1 pertanyaan ya/tidak. Tidak boleh ada pertanyaan hipotesis tentang masa depan (“Kalau ada aplikasi yang…”).
Sheet 3: Catatan Per Wawancara (estimasi 30 menit total, sebar 7 hari)
Cara mengisi (per wawancara):
- Selesai wawancara, langsung tulis catatan dalam 15 menit (jangan tunda sampai besok).
- Catat fakta perilaku, bukan opini Anda. Tangkap quote literal dengan tanda kutip.
- Skor pain 1 sampai 5 berdasar bukti (bayar workaround = +2, workaround manual = +1, emosi saat cerita = +1, rela referral = +1).
Kualitas minimum: minimal 5 wawancara terisi. Tiap baris harus punya minimal 1 quote langsung. Skor pain harus didukung bukti perilaku, bukan tebakan founder.
Sheet 4: Pola dan Insight (estimasi 20 menit)
Cara mengisi:
- Setelah 5 wawancara selesai, baca ulang seluruh catatan Sheet 3.
- Tulis pola yang muncul minimal 3 dari 5 responden.
- Untuk tiap insight: tulis bukti spesifik dari responden + implikasi (tetap di hipotesis / pivot / gugur).
Kualitas minimum: minimal 4 insight dengan bukti dari 3+ responden. Implikasi harus berbentuk tindakan, bukan kesimpulan generik.
Sheet 5: Refleksi Pribadi (estimasi 10 menit)
Tiga pertanyaan singkat di akhir worksheet. Jawab dengan jujur, sheet ini hanya dilihat oleh mentor Anda.
Cara mengumpulkan
Simpan file dengan nama pekan-02-[nama-Anda].xlsx. Upload ke folder Drive kohort sebelum Sabtu pukul 21.00. Mentor akan review dan beri komentar sebelum sesi pekan 3.
20 Persen Terpenting dari Pekan Ini
Kalau Anda hanya bisa mengingat 5 hal dari modul ini, ingat ini:
- Bicarakan hidup mereka, bukan ide Anda. Tujuan wawancara discovery adalah belajar, bukan menjual. Aturan 30 persen founder bicara, 70 persen responden bicara.
- Pertanyaan baik adalah tentang masa lalu yang spesifik. “Kapan terakhir Anda…” mengalahkan “Apakah Anda biasanya…”. Memori konkret lebih bisa dipercaya dari opini umum.
- Pain nyata diukur dari bukti perilaku. Sudah bayar workaround, sudah bangun proses manual ribet, cerita dengan emosi, rela referral. Minimum 2 dari 4 sinyal harus muncul.
- Quote literal lebih berharga dari parafrase. Tangkap kata-kata persis responden dalam tanda kutip. Bahasa mereka adalah bahasa marketing Anda nanti.
- Pola hanya valid bila muncul di 3 dari 5. Satu responden vokal bukan sinyal. Tunggu 60 persen kemiripan sebelum tarik kesimpulan.
Checklist Peserta Sebelum Lanjut ke Pekan 3
Beri tanda centang. Lanjut ke pekan 3 hanya bila minimal 8 dari 10 sudah tercentang.
- Saya bisa menyebut 3 aturan Mom Test dalam 1 menit
- Saya menjalankan minimal 5 wawancara, masing-masing 25 sampai 35 menit
- Saya rekam minimal 4 dari 5 wawancara (dengan izin) dan dengar ulang
- Catatan saya berisi minimal 1 quote literal per wawancara
- Skor pain saya didukung bukti perilaku, bukan perasaan
- Saya menemukan minimal 1 insight yang muncul di 3+ responden
- Saya menemukan minimal 1 asumsi pekan 1 yang TERBUKTI salah
- Saya dapat minimal 4 referral dari responden untuk pekan 3
- Saya tidak mengubah wawancara jadi pitch produk
- Saya tidak menyimpulkan dari 1 atau 2 responden saja
Centang yang jujur. Kalau belum 8 dari 10, lakukan 2 wawancara tambahan sebelum lanjut. Pekan 3 akan pakai pola dari pekan ini sebagai input market sizing.