Lewati ke konten utama
TIH
Pekan 11 dari 16 Fase: Sales, Marketing, Growth

Sales Process dan Konversi

Membangun proses sales yang sistematis dari prospek menjadi pelanggan. Pekan ini Anda menyusun pipeline, skrip outreach 3 channel, dan handle 7 objection paling umum dengan jawaban berbasis empati dan data.

Durasi 120 menit Bulan 3 Hasil: Sales playbook 1 halaman, 3 versi skrip outreach, dan target pipeline 30 prospek

Tujuan belajar

  • Memahami sales funnel B2B dengan 5 sampai 7 tahap pipeline
  • Menulis skrip cold outreach yang dibuka dan dibalas (email, LinkedIn, WhatsApp)
  • Mendalami 7 objection paling umum dengan respons siap pakai
  • Mengukur conversion rate per tahap untuk identifikasi bottleneck
  • Menjalankan founders selling dengan 30 prospek pertama

Pra-syarat sebelum mulai

Sebelum buka modul ini, siapkan:

  • Hasil pekan 8: ICP dan buyer persona yang sudah valid.
  • Hasil pekan 10: marketing engine yang menghasilkan lead inbound (atau setidaknya signup organic dari komunitas).
  • Daftar 30 prospek dari ICP siap di-outreach.
  • Tools CRM ringan (Notion table, Airtable free, atau spreadsheet).
  • Akun LinkedIn aktif dan WhatsApp Business.
  • Slot kalender 5 hari untuk eksekusi outreach + 3 demo per hari.

Topik

Sales sering dianggap kotor oleh founder teknis. Padahal di tahap awal, founder yang menolak jualan adalah founder yang produknya tidak akan laku. Pekan ini kita susun proses sales yang sistematis dengan skrip, handling objection, dan pipeline tracker.

Tujuannya bukan sales agresif, tapi sales yang membantu prospek mengambil keputusan tepat. Founders selling adalah olahraga rutin, bukan sprint sekali.

Apa yang Akan Dipelajari

  • Kenapa founders selling lebih efektif dari hire sales orang pertama
  • Struktur sales funnel dengan 5 sampai 7 tahap dan exit criteria
  • Cara prospecting: cold outbound, warm referral, inbound
  • Skrip cold outreach yang punya open rate tinggi
  • Tujuh objection umum dengan respons yang berbasis empati dan data
  • Demo yang menjual dengan 3 elemen kunci
  • Pipeline tracker mingguan untuk identifikasi bottleneck

Glossary singkat

  • Sales funnel: urutan tahap dari prospek mentah jadi customer
  • Pipeline: daftar prospek aktif dalam funnel
  • Cold outbound: kontak ke orang yang belum kenal Anda
  • Warm referral: intro dari koneksi yang dipercaya prospek
  • Inbound: prospek datang sendiri (dari content, SEO, ads)
  • ICP (Ideal Customer Profile): profil organisasi/individu yang paling cocok
  • MQL (Marketing Qualified Lead): lead dari marketing yang sudah engage
  • SQL (Sales Qualified Lead): lead yang sudah diqualify oleh sales
  • Discovery call: panggilan untuk pahami kebutuhan prospek
  • Demo: presentasi solusi disesuaikan dengan pain prospek
  • Objection: keberatan yang muncul dari prospek
  • Closed Won: deal sukses tanda tangan
  • Closed Lost: deal tidak jadi (bisa dikatakan no, bisa ghosting)

Estimasi waktu pengerjaan modul

AktivitasEstimasi
Bacaan modul25 menit
Simulasi (membaca dan ikut latihan)20 menit
Worksheet 5 sheet105 menit
Eksekusi outreach + demo5 hari
Refleksi pribadi10 menit
Total bacaan2 jam 40 menit
Total eksekusi (5 hari)20 sampai 30 jam intensif

Uraian Pembelajaran

Founders selling

Sebelum hire VP Sales, founder harus jualan ke 50 sampai 100 customer pertama. Alasan:

  1. Hanya founder yang punya konteks penuh tentang produk. Bisa improvisasi pitch, ubah scope deal, dan menjawab pertanyaan teknis.
  2. Fleksibilitas mengubah scope deal. Sales hire pertama tidak punya otoritas untuk negotiate creative deal.
  3. Motivasi tinggi untuk closing. Founder punya stake besar di setiap deal.
  4. Belajar pain dari frontline. Setiap rejection adalah feedback. Founder yang skip ini tidak punya muscle untuk membangun playbook.

Sales hire pertama datang setelah Anda punya playbook yang terbukti. Indikator playbook ready:

  • Conversion rate dari demo ke close konsisten 20 persen+
  • 50+ customer sudah closed
  • Rata-rata sales cycle terukur (misal 3 minggu)
  • Common objections sudah punya jawaban siap

Founder yang menolak jualan biasanya gagal di salah satu dari tiga: tidak punya bukti produk laku, tidak punya feedback dari frontline, atau tidak punya muscle untuk negotiate.

Sales funnel dan tahapan

Funnel B2B umum punya 5 sampai 7 tahap:

TahapDefinisiExit criteria
ProspekKontak awal terkumpulProfil cocok ICP, kontak valid
QualifiedMemenuhi ICP dan punya painKonfirmasi budget, pain spesifik, tertarik discovery
Discovery callPemahaman kebutuhanDapat 5 jawaban: pain, current solution, budget, timeline, decision-maker
Demo / ProposalPresentasi solusiEngagement demo, 2+ pertanyaan substantif
NegotiationDiskusi harga dan termsKonfirmasi tertarik, diskusi kontrak
Closed WonTanda tangan + invoice paidCustomer aktif, onboarded
Closed LostDeal tidak jadiDitandai dengan alasan untuk learning

Setiap tahap butuh exit criteria yang jelas. Tanpa exit criteria, prospek mengendap di tahap tertentu tanpa kemajuan.

Aturan praktis: target durasi total sales cycle 3-4 minggu untuk B2B kecil-menengah. Lebih lama dari itu, mungkin ada friction di salah satu tahap.

Prospecting tiga jalur

Cold outbound: kirim pesan ke orang yang belum kenal Anda. Cocok untuk akses cepat ke segmen sempit. Tools: LinkedIn Sales Navigator (paid), Hunter, Apollo. Conversion rate cold outbound umumnya 1-3 persen reply, 0.3-1 persen meeting.

Warm referral: minta intro dari koneksi yang dipercaya prospek. Conversion paling tinggi karena ada modal kepercayaan. Conversion 30-50 persen meeting dari warm intro. Strategi: setiap closing call, minta 2 referral.

Inbound: prospek datang sendiri lewat content, SEO, atau ads. Conversion lebih lambat tapi scalable. Conversion meeting 10-20 persen dari MQL berkualitas. Cocok setelah Anda punya konten dan SEO yang bekerja (pekan 10).

Di tahap awal, kombinasi 70 persen warm referral dan 30 persen cold outbound paling realistis. Inbound tambah secara bertahap setelah marketing engine jalan.

Cold outreach yang efektif

Format yang punya open rate tinggi:

  • Subject pendek dan personal (maksimum 60 karakter)
  • Body 4 sampai 6 baris (pendek)
  • Value proposition spesifik untuk profil prospek
  • Social proof singkat (1 case study)
  • Soft CTA (bukan minta call 30 menit dari email pertama)

Contoh struktur email yang efektif:

Subject: Cara warung Bu Ratna naik rating GoFood 0.4 dalam 30 hari

Halo [Nama],

Saya lihat di IG warung Anda baru-baru ini. Selamat.

Tim kami bantu UMKM kuliner seperti Warung Bu Ratna naikkan rating GoFood + GrabFood lewat dashboard 1 layar yang cegah missed order.

5 menit baca? Boleh saya kirim 1 case study 1 halaman?

Salam, [Nama Anda]

Hindari kesalahan umum:

  • Subject clickbait (“Anda HARUS lihat ini!”)
  • Opening “saya harap Anda baik-baik saja” (basa-basi yang tidak personal)
  • Value prop generik (“solusi inovatif untuk bisnis Anda”)
  • CTA agresif (minta call 30 menit dari email pertama)
  • Body terlalu panjang (lebih dari 8 baris)

Adaptasi untuk channel berbeda:

  • Email: format di atas
  • LinkedIn DM: lebih pendek (3-4 baris), tanpa subject
  • WhatsApp: paling pendek (2-3 baris), tone lebih casual

Demo yang menjual

Demo bukan tour fitur. Tiga elemen demo yang baik:

Elemen 1: Mulai dari pain pengguna yang Anda dengar di discovery call.

Salah: “Mari saya tunjukkan dashboard kami.” Benar: “Tadi Bu Ratna cerita pernah missed order 5 kali per minggu. Mari saya tunjukkan bagaimana KasirOne mencegah itu.”

Elemen 2: Tunjukkan workflow yang menyelesaikan pain itu, bukan semua fitur.

Salah: tour 15 fitur dalam 30 menit. Benar: 1 workflow utama (terima pesanan multi-channel) dalam 5 menit, lalu pertanyaan pertama prospek.

Elemen 3: Biarkan prospek bicara, target 60 persen prospek bicara, 40 persen Anda.

Demo yang berhasil punya banyak pertanyaan dari prospek. Demo yang gagal: founder bicara terus sampai prospek diam.

Tutup demo dengan dua pertanyaan:

  1. “Dari yang kita lihat tadi, mana yang paling relevan untuk situasi Anda?”
  2. “Apa hambatan Anda untuk mulai pakai bulan depan?”

Pertanyaan kedua memunculkan objection yang harus di-handle sebelum closing.

Tujuh objection paling umum

1. “Harga terlalu mahal”

Akar sebenarnya sering bukan harga, tapi unclear value.

Respons: “Saya pahami. Mari hitung bersama: rata-rata UMKM kehilangan Rp 200-400rb per minggu dari missed order. Tools 100rb per bulan ROI dalam 1 minggu. Boleh saya tunjukkan kalkulator-nya?”

2. “Saya pikirkan dulu”

Akar sebenarnya kurang urgensi atau tidak yakin value.

Respons: “Saya hargai. Boleh tahu: apa yang membuat keputusan ini sulit? Dan kapan timeline yang realistis untuk Anda?”

3. “Kami sudah pakai produk lain”

Akar: tidak puas tapi switching cost terasa tinggi.

Respons: “Boleh tahu apa yang berfungsi dari produk eksisting Anda? Dan apa yang masih kurang?” Posisikan diri sebagai pelengkap atau pengganti spesifik berdasar gap.

4. “Saya harus tanya tim/keluarga dulu”

Akar: bukan decision-maker tunggal, atau polite-no.

Respons: “Dimaklumi. Apa Anda mau saya presentasi singkat ke tim Anda juga? Saya bisa zoom 30 menit kapan cocok untuk semua.” Tawarkan presentasi grup, hilangkan friction keputusan.

5. “Saya butuh fitur X yang belum ada”

Akar: mungkin nice-to-have, bukan must-have.

Respons: “Boleh tahu: kalau fitur X ada, apa yang akan Anda lakukan dengan itu?” Pahami akar kebutuhan, jujur tentang roadmap, tawarkan workaround sementara.

6. “Belum cocok timing-nya”

Akar: bisa real timing issue, bisa polite no.

Respons: “Saya pahami. Apa yang akan berubah dalam 3 bulan supaya timing-nya cocok? Saya bisa follow-up bulan [X].” Set follow-up timeline konkret.

7. “Saya harus lihat dulu hasilnya di orang lain”

Akar: trust issue, butuh proof.

Respons: “Boleh saya kenalkan dengan Bu Ratna yang sudah pakai 3 bulan? 5 menit dengan beliau langsung.” Live referral lebih kuat dari case study tertulis.

Aturan emas objection handling: respons selalu mulai dengan empati (“saya pahami”, “saya hargai”) sebelum lanjut ke counter.

Pipeline tracker mingguan

Pipeline tracker bukan untuk impressive di mata investor, tapi untuk identifikasi bottleneck. Pantau setiap minggu:

TahapJumlah prospekConversion rate ke tahap berikutnya
Prospek30-
Qualified2067% (dari Prospek)
Discovery1050% (dari Qualified)
Demo660% (dari Discovery)
Negotiation350% (dari Demo)
Closed Won267% (dari Negotiation)

Ratio sehat:

  • Prospek to Qualified: 50-70%
  • Qualified to Discovery: 40-60%
  • Discovery to Demo: 50-70%
  • Demo to Negotiation: 40-60%
  • Negotiation to Closed Won: 50-70%

Bila ada tahap dengan conversion rate sangat rendah (misal Discovery to Demo cuma 20%), itu bottleneck. Investigate kenapa: skrip discovery kurang tajam, kualifikasi kurang ketat, atau demo terlalu generik.

Studi kasus singkat

Stripe (Patrick Collison, 2010-2011). Founders selling ekstrem. Patrick mendatangi YC startup teman, install Stripe sendiri di kompi developer mereka (dijuluki “Collison Installation”). 100 customer pertama dari friend-of-friend network. Sales hire pertama baru pasca Series A. Pelajaran: founder yang hands-on bisa close customer yang sales hire tidak bisa.

Mekari Talenta (Suwandi Soh, 2015-2017). Sales process B2B yang disiplin. ICP: HR Manager perusahaan 50-200 karyawan. Pipeline: 7 tahap dari prospek sampai closed. Conversion rate target: 8 persen prospek to closed. Sales cycle 4-6 minggu. Founder + 1 cofounder selling 30 customer pertama via referral konsultan akuntan. Playbook lengkap di bulan 4.

Drift (David Cancel, 2014). Founders selling untuk 100 customer pertama. Cancel pribadi handle setiap demo. Common objection didokumentasikan dan dipakai untuk training sales hire selanjutnya. Hasilnya: setiap sales hire pertama kerja produktif dalam 30 hari (bukan 6 bulan).

Simulasi: dari ICP ke 30 prospek pertama

Mari jalankan simulasi utuh. Konteks: Anda sudah punya 30 nama prospek dari ICP UMKM kuliner Jabodetabek pekan 8.

Langkah 1. Definisi 6 tahap pipeline dengan exit criteria

Sudah didefinisikan di tabel di atas.

Langkah 2. Tulis 3 versi skrip outreach

Email, LinkedIn DM, WhatsApp pendek (sesuai tabel di worksheet).

Langkah 3. Eksekusi outreach minggu 1

Hari 1: kirim 30 email + 30 LinkedIn DM. Hari 2-3: follow-up reminder 24 jam setelah unread. Hari 4-5: balas reply, schedule discovery call.

Hasil typical: 30 outreach → 5-8 reply → 3-5 discovery scheduled.

Langkah 4. Discovery call minggu 2

5 discovery call. Skrip: 5 pertanyaan kunci (pain, current solution, budget, timeline, decision-maker). Durasi 20-30 menit per call.

Hasil: 3 dari 5 lanjut ke demo.

Langkah 5. Demo minggu 2-3

3 demo. Format: 5 menit pain recap + 5 menit demo workflow + 15 menit Q&A + 5 menit closing question.

Hasil: 2 dari 3 lanjut ke negotiation.

Langkah 6. Negotiation + Close minggu 3-4

2 negotiation. Diskusi pricing, terms, onboarding plan.

Hasil: 1-2 closed won. MRR Rp 100-200rb dari closed pertama.

Output: 30 prospek → 1-2 customer dalam 30 hari. Conversion rate end-to-end: 3-7 persen. Pipeline tracker terupdate, lessons learned dokumented.

Contoh sales process dari domain lain

  • B2B SaaS HR: sales cycle 6-8 minggu (lebih panjang karena multiple stakeholder). 7 tahap pipeline. Demo group dengan HR Manager + IT + CFO.
  • Marketplace AC service: sales cycle 1-3 hari (B2C). Pipeline simpel: lead → quoted → booked → completed. CTA paid via aplikasi.
  • Consumer health ASI tracker: sales cycle 1 hari (B2C). Pipeline: signup → trial 14 hari → paid. Tidak ada sales call, semua self-serve.
  • Edtech vokasi multimedia: sales cycle 1-2 minggu. Pipeline: lead → assessment call → enrollment. Decision-maker = student + parent untuk SMA, student sendiri untuk pasca-lulus.
  • Fintech kredit konsumtif: sales cycle 7-14 hari (regulasi cek). Pipeline: lead → KYC → approval → disbursement. Outreach via partnership perusahaan.

Anti-pattern: kesalahan yang harus dihindari

  1. Founders selling = founder pitching. Sales bukan pitching satu arah. Sales adalah dialog. 60 persen prospek bicara, 40 persen Anda.
  2. Skip discovery call, langsung demo. Demo tanpa pahami pain spesifik akan generik dan tidak menjual. Discovery call wajib.
  3. Tidak punya exit criteria per tahap. Prospek mengendap di tahap “Qualified” 3 minggu tanpa kemajuan. Exit criteria membantu push atau drop.
  4. Objection handling defensive. “Tidak, harga kami sudah murah” = defensive. Yang benar: empati dulu (“saya pahami”), lalu counter dengan data.
  5. Pipeline tracker tanpa next action. “Follow-up” bukan next action. “Send case study + propose call Selasa 10am” adalah next action.
  6. Hire VP Sales sebelum founder selling 50+ customer. Sales tanpa playbook = waste. Founder skip ini = sales hire pertama bingung dan churn.

Tugas Worksheet

Buka file pekan-11.xlsx dari sidebar. Total waktu pengerjaan worksheet sekitar 105 menit. Eksekusi outreach + demo butuh 5 hari intensif.

Sheet 1: Pipeline Tahap (estimasi 20 menit)

Cara mengisi:

  1. Definisikan 5-7 tahap pipeline
  2. Setiap tahap punya exit criteria spesifik
  3. Target durasi total sales cycle

Kualitas minimum: 5-7 tahap. Exit criteria spesifik, bukan “prospek tertarik”.

Sheet 2: Skrip Outreach (estimasi 25 menit)

Cara mengisi:

  1. Tulis 3 versi: Email, LinkedIn DM, WhatsApp
  2. Email body maksimum 6 baris
  3. CTA soft

Kualitas minimum: 3 versi terisi. Email body maksimum 6 baris, subject 60 karakter.

Sheet 3: Objection Handling (estimasi 25 menit)

Cara mengisi:

  1. 7 objection umum
  2. Akar masalah sebenarnya untuk masing-masing
  3. Respons berbasis empati + data
  4. Bukti pendukung

Kualitas minimum: 7 objection lengkap. Respons mulai dengan empati (“saya pahami”).

Sheet 4: Pipeline Tracker (estimasi 25 menit)

Cara mengisi:

  1. Daftar 30 prospek pertama
  2. Update tahap, last touch, next action, tanggal target
  3. Conversion rate per tahap di-track terpisah

Kualitas minimum: 30 prospek. Setiap prospek punya next action konkret + tanggal.

Sheet 5: Refleksi Pribadi (estimasi 10 menit)

Tiga pertanyaan singkat. Jawaban hanya dilihat oleh mentor.

Cara mengumpulkan

Simpan dengan nama pekan-11-[nama-Anda].xlsx. Update mingguan. Upload ke folder Drive kohort sebelum Sabtu pukul 21.00.

20 Persen Terpenting dari Pekan Ini

Lima hal yang harus diingat:

  1. Founders selling wajib 50-100 customer pertama. Sales hire datang setelah ada playbook terbukti, bukan sebelum.
  2. Sales adalah dialog, bukan pitching. 60 persen prospek bicara, 40 persen Anda. Demo dengan banyak pertanyaan = sukses.
  3. Setiap tahap pipeline butuh exit criteria. Tanpa itu, prospek mengendap. Exit criteria membantu push atau drop.
  4. Objection handling mulai dengan empati. “Saya pahami” sebelum counter dengan data atau pertanyaan.
  5. Pipeline tracker bukan untuk impress investor, untuk identifikasi bottleneck. Pantau conversion rate per tahap mingguan.

Checklist Peserta Sebelum Lanjut ke Pekan 12

Beri tanda centang. Lanjut ke pekan 12 hanya bila minimal 8 dari 10 sudah tercentang.

  • Saya bisa menjelaskan 5-7 tahap pipeline dengan exit criteria
  • Saya tulis 3 versi skrip outreach (email, LinkedIn, WA)
  • Saya tulis 7 objection handling dengan respons + bukti
  • Saya jalankan founders selling minimum 30 prospek dalam 7 hari
  • Saya book minimum 5 discovery call dari 30 prospek
  • Saya jalankan minimum 3 demo dengan format 60% prospek bicara
  • Saya close minimum 1 customer pertama (atau confirmed close dalam minggu)
  • Saya update pipeline tracker mingguan dengan next action konkret
  • Saya tidak skip discovery call dan langsung demo
  • Saya tidak respons objection dengan defensive (mulai dengan empati)

Centang yang jujur. Pekan 12 akan ambil hasil sales untuk membangun growth loops dan retention yang compounding.

Pekan 10 sebelumnya
Fondasi Marketing yang Berdampak
Pekan 12 berikutnya
Growth Loops dan Retensi