Lewati ke konten utama
TIH
Pekan 13 dari 16 Fase: Team, OKR, KPI

Team Building dan Recruitment

Membangun tim awal yang punya kompetensi dan budaya yang cocok. Pekan ini Anda menentukan kapan harus hire, menyusun job scorecard outcome-driven ala Geoff Smart, dan menjalankan wawancara berbasis kompetensi format Topgrading.

Durasi 120 menit Bulan 4 Hasil: Job scorecard untuk 1 role kunci, hiring plan, dan minimum 3 kandidat di pipeline

Tujuan belajar

  • Menjawab 6 pertanyaan kunci untuk validasi keputusan hire
  • Menyusun job scorecard yang outcome-driven (Mission + Outcome + Competency)
  • Menguasai struktur wawancara berbasis kompetensi Topgrading 4 sesi
  • Membangun pipeline kandidat dari 5 saluran berbeda
  • Mengeksekusi reference check yang menggali sinyal jujur

Pra-syarat sebelum mulai

Sebelum buka modul ini, siapkan:

  • Hasil pekan 11-12: pipeline sales aktif, 50+ customer aktif, growth loop yang sudah jalan.
  • Data finance: MRR/revenue saat ini, runway, kemampuan bayar gaji 6 bulan ke depan.
  • Daftar advisor + investor + cofounder startup lain untuk sumber referral.
  • Akses ke Glints, EkrutBerkarir, TechInAsia Jobs, atau LinkedIn Recruiter (paid optional).
  • Tools tracking aplikasi kandidat (Notion, Airtable, atau spreadsheet).

Topik

Hire pertama adalah keputusan paling berdampak di awal startup. Salah hire menyebabkan kerugian waktu, uang, dan moral tim. Pekan ini kita pelajari kapan harus hire, cara membuat job scorecard yang jelas, dan struktur wawancara yang dipakai banyak startup tahap awal yang sukses.

Yang sering dilewatkan: hire bukan tanda kemajuan, hire adalah tanda kebutuhan. Banyak founder hire terlalu cepat karena terlihat keren, lalu menyesal 6 bulan kemudian.

Apa yang Akan Dipelajari

  • Pertanyaan untuk memutuskan kapan hire dan kapan tunda
  • Konsep job scorecard dari buku “Who” oleh Geoff Smart
  • Format wawancara berbasis kompetensi 4 sesi (Topgrading)
  • Sample pertanyaan kunci yang menggali sinyal jujur
  • Reference check yang tidak diabaikan
  • Sourcing kandidat dari multiple saluran
  • Cara membangun budaya sejak hari pertama

Glossary singkat

  • Job scorecard: dokumen 1 halaman dengan Mission + Outcome + Competency + Cultural Fit (Geoff Smart, “Who”)
  • Mission: kalimat 1-2 baris yang menjelaskan kenapa role ini ada
  • Outcome: 3-5 hasil terukur yang akan dicapai dalam 12 bulan
  • Competency: skill dan trait yang dibutuhkan, spesifik untuk outcome
  • Cultural fit: trait yang harus selaras dengan budaya tim
  • Topgrading: format wawancara 4 sesi dari Brad Smart
  • Threat of Reference Check (TORC): teknik wawancara yang membuat kandidat lebih jujur karena tahu Anda akan cek referensi
  • T-shaped: profile yang luas tapi punya kedalaman di satu area
  • Specialist: profile yang dalam di satu area spesifik
  • Reference check: cek ke bos langsung atau peer kandidat di pekerjaan sebelumnya
  • A-player: hire yang konsisten exceed expectations, masuk top 10% talent market

Estimasi waktu pengerjaan modul

AktivitasEstimasi
Bacaan modul25 menit
Simulasi (membaca dan ikut latihan)20 menit
Worksheet 5 sheet85 menit
Eksekusi sourcing + interview4-6 minggu
Refleksi pribadi10 menit
Total bacaan2 jam 20 menit
Total eksekusi (4-6 minggu)15-25 jam total

Uraian Pembelajaran

Kapan harus hire

Hire bukan tanda kemajuan, tapi tanda kebutuhan. Tanyakan 6 pertanyaan sebelum buka rekrutmen:

  1. Apakah ada pekerjaan repetitif yang menghabiskan 50 persen waktu founder?
  2. Apakah ada skill spesifik yang tidak ada di tim eksisting dan dibutuhkan setiap minggu?
  3. Apakah revenue sudah cukup menutup gaji 6 bulan ke depan?
  4. Apakah role-nya akan punya output terukur dalam 90 hari?
  5. Apakah Anda sudah dokumentasikan playbook supaya hire baru bisa onboarding cepat?
  6. Apakah Anda sudah mencoba outsource atau freelance sebagai opsi sementara?

Bila ada lebih dari 2 jawaban tidak, tunda dulu.

Indikator hire belum saatnya:

  • Founder masih bisa handle, hanya capek
  • Belum ada playbook untuk role tersebut
  • Revenue belum stabil 3 bulan
  • Output role belum jelas

Hire pertama: T-shaped vs specialist

Hire pertama biasanya orang yang melengkapi celah skill founder.

Bila founder kuat di teknis: hire pertama mungkin orang yang fokus pada sales atau operasi. Bila founder kuat di bisnis: hire pertama mungkin engineer atau designer.

Pilihan T-shaped vs specialist tergantung tahap:

TahapPilihanAlasan
Pre-PMFT-shapedBanyak konteks berubah, butuh fleksibilitas
Near-PMFHybridSpecialist di 1 area kunci, T-shaped untuk lainnya
Post-PMFSpecialistBangun fondasi yang stabil di area kunci

T-shaped adalah orang yang bisa banyak hal tapi punya kedalaman di 1 area. Misal: customer success officer yang bisa product analytics + sales + content writing, tapi punya kedalaman di customer success.

Job scorecard ala Geoff Smart

Konsep dari Geoff Smart di buku “Who: The A Method for Hiring” (2008). Job scorecard berisi 4 elemen yang dipakai sebagai standar evaluasi semua kandidat.

Mission: kalimat 1 sampai 2 baris tentang kenapa role ini ada.

Contoh: “VP Marketing membangun mesin marketing yang menghasilkan 100 qualified lead per bulan dengan CAC di bawah 1 juta.”

Outcome: 3 sampai 5 hasil terukur dalam 12 bulan.

Contoh:

  • Lead organik tumbuh dari 20 jadi 100 per bulan
  • CAC turun 40 persen dari baseline
  • Brand awareness naik di kalangan target dengan NPS 50+

Competency: skill dan trait yang dibutuhkan. Bukan checklist generic, tapi spesifik untuk outcome.

Contoh: “Pengalaman B2B SaaS, mahir SEO content, eksekutor yang juga strategic, mau hands-on, comfortable dengan ambiguitas.”

Cultural fit: trait yang harus selaras dengan budaya tim. Hindari kabur seperti “punya passion”, tulis spesifik.

Contoh: “Comfortable dengan ambiguitas, cepat ambil keputusan dengan data terbatas, bahasa lugas (bukan korporat), mau eksekusi sendiri (bukan delegate semua).”

Job scorecard dipakai sebagai standar evaluasi semua kandidat, jauh lebih efektif dari job description biasa yang penuh checklist tugas.

Wawancara berbasis kompetensi (Topgrading 4 sesi)

Format Topgrading dari Brad Smart punya 4 sesi:

Sesi 1: Screening (30 menit)

Filter dasar. Pewawancara: founder. Tujuan: pastikan kandidat memenuhi requirements minimum (lokasi, salary expectation, motivasi).

Sample pertanyaan: “Kenapa Anda tertarik dengan role ini di startup tahap awal?”, “Berapa ekspektasi gaji Anda?”, “Kapan bisa mulai?”

Sesi 2: Chronological Deep Dive (90 menit)

Pewawancara: founder + 1 senior. Tujuan: ulang sejarah karir kandidat dan gali keputusan yang mereka ambil.

Format: untuk setiap pekerjaan dari awal karir, tanyakan:

  1. Apa yang Anda direkrut untuk dilakukan?
  2. Apa yang berjalan baik?
  3. Apa yang sulit?
  4. Kenapa Anda keluar?
  5. Kalau saya tanya bos langsung Anda, apa yang akan disebut sebagai kekuatan dan area perbaikan?

Pertanyaan terakhir disebut Threat of Reference Check (TORC). Ini membuat kandidat lebih jujur karena tahu Anda akan cek dengan bos langsung.

Sesi 3: Focused Interview (60 menit)

Pewawancara: senior lain atau advisor. Tujuan: skill spesifik. Bentuk: case study atau live exercise.

Contoh untuk Customer Success: “Ini dashboard Mixpanel real customer kami. Identifikasi 3 risiko churn terbesar dan rancang outreach plan minggu ini.”

Sesi 4: Cultural + Reference (45 menit + 2 reference call)

Pewawancara: founder + cofounder. Plus 2 reference call ke bos langsung atau peer.

Sample pertanyaan kultural: “Cerita 1 contoh ketika Anda harus eksekusi dengan info terbatas. Apa keputusan Anda? Hasilnya?”

Reference call adalah where the truth comes out. Banyak founder skip ini karena merasa “feeling sudah cukup”. Itu kesalahan mahal.

Reference check yang tajam

Reference check adalah momen kritis. Banyak yang dilakukan asal-asalan.

Cara reference check yang efektif:

  1. Cek minimum 2 orang per kandidat: 1 bos langsung + 1 peer.
  2. Tidak hanya orang yang kandidat sebut: tanya juga “Siapa lagi yang bekerja dekat dengan Anda di [perusahaan X]?” untuk dapat back-channel.
  3. Pertanyaan spesifik, bukan generic: bukan “How was [kandidat]?” tapi “Bila Anda bisa hire [kandidat] lagi, akan Anda lakukan? Skala 1-10.”
  4. Cari sinyal verbal: hesitasi, “ehm”, “secara umum sih bagus” sering tanda ada masalah yang tidak diutarakan.

Sample pertanyaan reference yang efektif:

  • “Bila Anda bisa hire [kandidat] lagi, skala 1-10?”
  • “Apa kekuatan terbesar [kandidat]?”
  • “Apa area yang harus dia improve?”
  • “Cerita 1 momen ketika [kandidat] gagal di kerjaan.”
  • “Apa yang akan Anda warning saya tentang gaya kerja dia?”

Bila skor di bawah 8, hati-hati. Bila skor 8-10 dengan contoh konkret, kandidat layak.

Sourcing dari multiple saluran

Lima sumber utama dengan tingkat konversi berbeda:

1. Network langsung (referral)

Konversi tertinggi karena ada modal kepercayaan. Strategi: WA personal ke 30+ advisor, investor, cofounder startup lain. “Saya lagi cari [role]. Ada rekomendasi?”

2. Komunitas niche

Hadir di Discord, Telegram, Slack komunitas yang relevan dengan role. Untuk Customer Success: ProductLed Indonesia. Untuk Engineering: Local Engineers Indonesia.

3. LinkedIn outbound

Cari kandidat dengan kriteria spesifik, kirim DM personal. Tools: LinkedIn Recruiter (paid) atau LinkedIn search basic. Lambat tapi memberi kontrol kualitas.

4. Job board spesifik

Untuk role tertentu seperti engineer: TechInAsia Jobs, Glints, EkrutBerkarir. Banyak aplikasi tapi butuh filter ketat (kualitas variabel).

5. Konten dan brand

Tulis konten teknis atau visi tim yang menarik kandidat datang sendiri. Lambat di awal, compounding setelah 6-12 bulan. Posting LinkedIn founder story + JD + video kerja di startup awal.

Untuk hire pertama, fokus 70 persen di Network + Komunitas. Job board sebagai komplementer.

Cara membangun budaya sejak hari pertama

Budaya tim awal dibentuk oleh hire pertama, bukan oleh “value statement” yang ditulis di dinding.

Tiga prinsip:

1. Hire untuk cultural-add, bukan cultural-fit.

Cultural fit bisa berarti hire orang yang mirip diri Anda, yang bahaya untuk diversity dan groupthink. Cultural-add berarti hire orang yang melengkapi value yang sudah ada.

2. Onboarding 30-60-90 hari yang jelas.

Hari 1-30: belajar konteks, dokumentasi, 1-on-1 dengan semua tim. Hari 31-60: deliver 1 quick win. Hari 61-90: take ownership 1 area dengan KPI jelas.

Tanpa onboarding plan, hire baru bingung dan churn dalam 6 bulan.

3. Transparansi finansial dan strategi.

Bagi data MRR, runway, dan strategi ke seluruh tim. Tim yang tahu konteks bisa ambil keputusan yang lebih baik.

Studi kasus singkat

Stripe (Patrick Collison, 2010-2015). Hire pertama: Will Larson sebagai engineer setelah 2 cofounder. Patrick wawancara 50+ kandidat untuk hire pertama, bukan ambil yang pertama “cukup baik”. Hasilnya: hire pertama jadi engineering leader Stripe untuk 5 tahun pertama.

Mekari (Suwandi Soh, 2015-2017). Hire pertama setelah 3 cofounder: customer success officer. Sumber: referral dari konsultan akuntan partner Mekari. Onboarding 60 hari include shadowing 10 customer call. Hasilnya: customer success officer pertama jadi VP Customer Success setelah 3 tahun.

Kitabisa (Vikra Ijas, 2013-2015). Hire pertama: community manager. Sumber: aktivis sosial yang sudah menarik perhatian Vikra di komunitas. Tidak via job board, tapi observasi langsung. Hasilnya: community manager jadi tulang punggung adopsi awal.

Pola: hire pertama biasanya bukan dari job board, tapi dari network atau observasi langsung.

Simulasi: dari validasi hire ke kandidat pertama

Mari jalankan simulasi utuh. Konteks: KasirOne sudah 50 customer, founder mau hire Customer Success Officer pertama.

Langkah 1. Jawab 6 pertanyaan kapan hire

PertanyaanJawaban
Pekerjaan repetitif 50% waktu founder?Ya, customer success outreach makan 25 jam/minggu
Skill spesifik yang dibutuhkan setiap minggu?Tidak (skill umum, founder bisa)
Revenue cukup untuk gaji 6 bulan?Ya, MRR 25jt, gaji target 7jt/bulan
Output terukur 90 hari?Ya, target 30 customer onboarded sehat
Playbook sudah ada?Sebagian, sales playbook ada, customer success belum
Coba freelance dulu?Belum

5 dari 6 ya, 1 sebagian, 1 belum. Implikasi: hire boleh dimulai, tapi buat customer success playbook dulu (1 minggu) + coba freelancer 2-3 bulan paralel.

Langkah 2. Job scorecard

Mission: “Customer Success Officer memastikan 80% customer baru aktivasi sukses dalam 14 hari pertama dan retensi 30 hari di atas 50%.”

Outcomes:

  • Activation rate dari 35% ke 60% dalam 6 bulan
  • Retensi 30 hari naik dari 33% ke 50% dalam 12 bulan
  • NPS 50+ konsisten 3 bulan, NRR 110%+

Competencies: B2B SaaS customer success 2-3 tahun, mahir WhatsApp Business + Mixpanel/PostHog, eksekutor + analytical, comfortable dengan ambiguitas.

Cultural fit: bahasa lugas, eksekusi sendiri (bukan delegate semua).

Langkah 3. Interview plan 4 sesi

Sesi 1 screening 30 menit (founder), sesi 2 chronological 90 menit (founder + cofounder), sesi 3 focused 60 menit dengan case study Mixpanel real, sesi 4 cultural + reference 45 menit.

Langkah 4. Sourcing 5 saluran

SaluranAktivitasTarget
Network referralWA 30 advisor10 referral
Komunitas nicheSlack ProductLed Indonesia5 kandidat
LinkedIn outboundDM 50 profil5 scheduled
Job boardPosting Glints, TechInAsia30 aplikasi
Konten brandLinkedIn founder story10 inbound

Langkah 5. Eksekusi 4-6 minggu

Minggu 1: prep playbook + JD + scorecard final + start sourcing Minggu 2-3: screening + chronological deep dive (top 8 kandidat) Minggu 4: focused interview + cultural (top 3 kandidat) Minggu 5: reference check + offer Minggu 6: onboarding hari 1

Output: 1 hire pertama dengan reference check 8/10 dari 2 reference, signed offer, onboarding plan 90 hari.

Contoh hire dari domain lain

  • B2B SaaS HR: Hire pertama Sales Development Representative (SDR), bukan VP Sales. Outcome: 30 demo per bulan, 5 closed per bulan dari demo.
  • Marketplace AC service: Hire pertama Operations Lead untuk handle teknisi network. Outcome: 50 teknisi onboarded, response time < 2 jam.
  • Consumer health ASI tracker: Hire pertama Product Designer (B2C visual heavy). Outcome: redesign onboarding, activation +20%.
  • Edtech vokasi multimedia: Hire pertama Curriculum Lead. Outcome: 5 modul siap diluncurkan, completion rate 60%+.
  • Fintech kredit konsumtif: Hire pertama Risk Analyst. Outcome: default rate < 8%, processing time < 3 hari.

Anti-pattern: kesalahan yang harus dihindari

  1. Hire tanpa playbook. Hire baru bingung 30 hari pertama, founder kembali handle, hire churn. Bangun playbook dulu sebelum hire.
  2. Hire VP/C-level tanpa muscle 50+ customer. Tidak ada playbook untuk eksekusi, hire mahal duduk diam. Founder selling 50+ dulu.
  3. Job description checklist generic. “Pengalaman 3 tahun, skill X, Y, Z” tanpa outcome jelas. Pakai job scorecard ala Geoff Smart.
  4. Skip reference check. “Feeling sudah cukup”. Reference check adalah momen kritis, jangan diabaikan. Minimum 2 reference per kandidat.
  5. Wawancara hanya 1 sesi 1 jam. Tidak cukup untuk gali sinyal jujur. Topgrading 4 sesi standar untuk hire kunci.
  6. Hire untuk cultural-fit (mirip diri). Bahaya groupthink dan low diversity. Hire untuk cultural-add yang melengkapi value tim.

Tugas Worksheet

Buka file pekan-13.xlsx dari sidebar. Total waktu pengerjaan worksheet sekitar 85 menit. Eksekusi sourcing + interview butuh 4-6 minggu.

Sheet 1: Pertanyaan Kapan Hire (estimasi 15 menit)

Cara mengisi:

Sheet pre-filled 6 pertanyaan. Jawab ya/tidak dan tulis implikasi konkret per jawaban.

Kualitas minimum: 6 pertanyaan terjawab. Bila >2 jawaban tidak, tunda hire dulu.

Sheet 2: Job Scorecard (estimasi 25 menit)

Cara mengisi:

Sheet pre-filled 6 komponen. Isi role title, mission, 3 outcome, dan competencies + cultural fit.

Kualitas minimum: 6 komponen lengkap. Mission 1-2 baris. Outcome 3 hal terukur.

Sheet 3: Interview Plan 4 Sesi (estimasi 20 menit)

Cara mengisi:

Sheet pre-filled 4 sesi Topgrading. Isi pewawancara, fokus, sample pertanyaan kunci, durasi.

Kualitas minimum: 4 sesi terisi. Sample pertanyaan spesifik (bukan “tell me about yourself”).

Sheet 4: Sourcing Plan (estimasi 15 menit)

Cara mengisi:

Sheet pre-filled 5 saluran. Isi aktivitas spesifik dan target jumlah kandidat.

Kualitas minimum: 5 saluran berbeda. Aktivitas konkret, bukan “posting di LinkedIn” generik.

Sheet 5: Refleksi Pribadi (estimasi 10 menit)

Tiga pertanyaan singkat. Jawaban hanya dilihat oleh mentor.

Cara mengumpulkan

Simpan dengan nama pekan-13-[nama-Anda].xlsx. Upload ke folder Drive kohort sebelum Sabtu pukul 21.00.

20 Persen Terpenting dari Pekan Ini

Lima hal yang harus diingat:

  1. Hire bukan tanda kemajuan, tapi tanda kebutuhan. 6 pertanyaan dulu. Lebih dari 2 jawaban tidak = tunda.
  2. Job scorecard lebih efektif dari job description. Mission + Outcome + Competency + Cultural Fit. Standar evaluasi untuk semua kandidat.
  3. Topgrading 4 sesi standar untuk hire kunci. Screening, chronological, focused, cultural + reference. Total 4-5 jam tersebar 1-2 minggu.
  4. Reference check minimum 2 per kandidat. Bos langsung + peer. Pertanyaan kunci: “Bila bisa hire lagi, skala 1-10.”
  5. Sourcing 70% dari Network + Komunitas, 30% job board. Hire pertama biasanya bukan dari job board.

Checklist Peserta Sebelum Lanjut ke Pekan 14

Beri tanda centang. Lanjut ke pekan 14 hanya bila minimal 8 dari 10 sudah tercentang.

  • Saya jawab 6 pertanyaan kapan hire dengan jujur
  • Saya susun job scorecard dengan Mission + 3 Outcome + Competency lengkap
  • Saya susun interview plan 4 sesi dengan sample pertanyaan kunci
  • Saya rencanakan reference check minimum 2 per kandidat
  • Saya prepare sourcing dari 5 saluran berbeda
  • Saya buat playbook untuk role yang akan di-hire
  • Saya identifikasi minimum 3 kandidat di pipeline
  • Saya tidak hire VP/C-level tanpa muscle 50+ customer
  • Saya tidak skip reference check
  • Saya tidak hire untuk cultural-fit (mirip diri), tapi cultural-add

Centang yang jujur. Pekan 14 akan susun OKR dan KPI dashboard untuk performance management tim.

Pekan 12 sebelumnya
Growth Loops dan Retensi
Pekan 14 berikutnya
OKR, KPI, dan Performance Monitoring